Sapta Panta Tanda Dalam Budaya Berbusana; Iket Parahyang Dan Panji Di Kepala Lainnya
Sebuah Pengantar

Sebuah kebudayaan tentunya mulai dan melalui tahapan perjalan yang sangat panjang. Melibatkan berbagai sumber daya cipta dan karya manusia. Sama halnya dengan budaya cara berbusana. Semuanya merupakan hasil dari budaya.

SAPTA PANTA TANDA IKET

Nusantara ini memiliki kebudayaan yang sangat beragam. Dan yang sangat menarik salah satunya ternyata dalam hal berbusana. Dapat kita pastikan semua memiliki tanda atau Panji yang penggunaannya di kepala. Bila masyarakat Aceh menyebutnya sebagai makutup-tangkulok. Batak menyebutnya bulang-bulang tali-tali dan Dayak menyebutnya laung. Sedangkan masyarakat Jawa Barat atau orang Parahyang menamakan iket. Iket atau entah sebutan nama lainnya, bukan hanya sekedar penghias kepala saja. Namun di sana tersimpan berbagai tanda silib dan sindir. Kesemuanya akan bercerita tentang leluhur mereka masing masing.

SAPTA PANTA TANDA IKET

Jauh sebelum kita mengenal iket.

Ternyata leluhur bangsa kita khususnya Parahyang telah mengenal SALAYAR KANTEH dan TIPULUNG. Itu tercatat dalam beberapa Naskah Sunda Kuno abad ke-14. Untuk Salayar Kanteh sendiri, bukan merupakan pola iket yang sering penggunaan oleh masyarakat saat ini. Salayar kanteh merupakan tali yang mengikat rambut setelah tergulung (gelung). Sebagai contoh bisa kita lihat pada arca-arca di Candi Borobudur. Karena masyarakat saat itu cenderung memiliki rambut yang panjang. Maka mereka menggulung rambutnya dan mengikat dengan tali. Berbeda dengan wanita yang mengunakan cucuk gelung (tusuk konde).

Sedangkan Tipulung merupakan pola ikatan untuk menutupi kepala. Kemungkinan besar Telekung atau Totopong berasal dari Tipulung. Leluhur kita meyimpan berbagai cerita di balik pola panji atau ikat kepala. Tentunya kita sebagai pewaris dari keangungan leluhur harus pandai-pandai mengkaji membedah semua itu.

Bukankah dalam keseharian kita telah terajarkan Sindir, Sampir, Silib, Siloka, Sasmita, Sandi, Sunyata atau Sapta Panta Tanda? Tidakah terpikir oleh kita, kenapa harus Pohon Kelapa yang mewakili Iket Panji Barangbang Semplak? Kemudian ada model satwa munding (kebo/kerbau) yang mewakili kebo modol dan kebo salaksa. Lalu ada iket badak sawidak yang memunculkan hewan badak. Ada apa dengan badak? Kenapa simbol sebuah kasepuhan di Banten kidul mengunakan badak? Lalu munding, apakah ada hubungannya dengan Mundinglaya Dikusumah? Kemudian dengan pohon kelapa, kenapa logo Jamban Sari di Ciamis, terdapat gambar Pohon Kelapa dan Matahari?

Cara pandang kita sebagai bangsa Nusantara sangat berbeda dengan budaya Barat yang membuka tabir sejarah hanya mengandalkan; Icon, Index, Code dan Symbol. Mari kita sama-sama menguak tabir warisan leluhur kita. “Kawadahan ku mandepun, katutupan boeh rarang, kabuka pating haleung”.

Jika ada tesis kenapa kita tidak membuat antitesis? 😃 Ieu mung pamendak sim kuring, oge hasil wangkongan sareng sabagean sesepuh. Hatur nuhun. Cag.

~ Diky Pamanahrasa ~

Sapta Panta Tanda Iket Parahyang

Nusanatara; Desain website oleh Cahaya TechDevKlub Cahaya

Sapta Panta Tanda Iket Parahyang
About the author : Cahaya Hanjuang
Digital Business Community
Tagged on:

Get involved!

Get Connected!
Come and join our community. Expand your network and get to know new people!

Comments

No comments yet